Toxic Positivity (Bukan) Alasan Untuk Terlihat Baik-Baik Saja

by -

Oleh : Novindah Fitriani

Pada masa generasi milenial saat ini banyak sekali anak muda yang meredakan stress dengan berusaha memaksimalkan dirinya untuk berpikir positif. Apalagi ditambah masa pandemi covid-19 yang tidak tau kapan ujungnya, kadang pemikiran hal-hal negatif selalu bermunculan disaat situasi seperti ini.
Contohnya saja dimasa pandemi covid-19 banyak orang terkena PHK (Pemutus Hubungan Kerja), dalam hal ini pasti banyak orang disekitar yang ingin membuat mereka semangat dan merasa lebih baik dengan cara yang salah. Mengapa demikian? Karena secara tidak sadar orang yang terkena PHK tersebut ingin di mengerti tentang perasaannya dan bisa memberi waktu untuk meluapkan perasaannya.

Tidak hanya sekedar menggunakan kata “positif”. Beberapa orang beranggapan jika berpikir positif dapat membuat diri merasa tenang dan senang. meski sewaktu-waktu anggapan itu bisa jadi benar, namun nyatanya tidak. Karena orang yang toxic positivity memaksa dirinya agar selalu terlihat baik-baik saja dan akan berbahaya bagi kesehatan mental.

Baca juga:  Karena Daring, Nilai Asal Kasih

Istilah Toxic Positivity terdengar seperti paradoks, antara sebuah lontaran positif beradu dengan emosi negatif, sehingga menimbulkan ketidaksehatan bagi mental seseorang.

Menurut Konstatin Lukin, salah satu seorang psikolog dari Amerika, toxic positivity adalah sebuah konsep yang menerangkan bahwa berpikir positif merupakan cara tepat untuk menjalani hidup dan hal itu termasuk menolak segala sesuatu yang dapat memicu hadirnya emosi negatif.

Dikutip dari yayasanpulih.org. Toxic positivity menjelaskan mengenai konsep yang mengatakan bahwa berpikir positif merupakan cara yang tepat untuk menjalani hidup. Kita melakukan generalisasi secara tidak efektif terhadap perasaan dan keadaan bahagia, untuk diaplikasikan ke dalam setiap situasi yang dihadapi. Kemudian hal tersebut tertanam menjadi pola pikir yang tidak realistis serta memaksa seseorang untuk menekan perasaan mereka yang sebenarnya untuk terus menjadi positif. Dengan kata lain, kita dipaksa untuk fokus pada hal positif dan membuang emosi yang sebenarnya dirasakan. Secara kilas, pola pikir tersebut memang terkesan baik, namun konsep berpikir positif ini tidak sebaik dari apa yang digambarkan.

Baca juga:  MERCUSUAR PERADABAN

Menurut dr. Jiemi Ardian seorang residen psikiater di RS Muwardi Solo dikutip dari kejarmimpi.id, menjelaskan bahwa setiap manusia berhak menunjukkan emosi negatif seperti sedih, bahagia atau takut dan emosi ini punya pesan. Kalau emosi-emosi itu disangkal atau dipendam demi terus terlihat positif atau bahagia di depan orang-orang, yang ada emosi negatifnya menumpuk. Kemudian bisa memicu stress dan sakit psikis serta fisik alias psikosomatis. Emosi yang ditekan terus bisa jadi penyebab gangguan psikis. Yang paling sering terjadi ialah gangguan kecemasan dan depresi.

Seperti kalimat yang sering kita dengar “kamu kurang bersyukur!” atau “semua akan baik-baik saja” kalimat tersebut adalah ciri-ciri toxic positivity.

Baca juga:  Hari Konstitusi Republik Indonesia: Deteriorasi Reformasi

Respon seperti itulah yang terkadang dapat membuat seseorang kehilangan arah, dan merasa terjebak dalam situasi. Manusia tidak hanya makhluk individual tetapi makhluk sosial yang mana setiap orang butuh bantuan untuk menemukan solusi. Karena pada posisi tersebut seseorang cenderung ingin dimengerti.

Dalam situasi normal kata-kata positif dapat berdampak baik. Namun dapat menjadi toxic ketika seseorang merasa buntu dan tidak menemukan jalan keluar ketika dihadapkan dengan masalah, yang dapat menyebabkan stress berkepanjangan.

Dalam hal ini kita harus mengetahui bagaimana sifat seseorang yang ingin dimengerti dan dipahami atau hanya sekedar ingin membuat dirinya semangat tanpa memberi solusi. Seperti menanyakan hal-hal apa yang membuat dirinya merasa sedih, serta bersedia menjadi tempat luapan perasaannya sampai membuat orang tersebut merasa lega, walaupun kembali hanya dirinya sendiri yang mengenali masalah tersebut.