Takbir dalam Duka

by -

Merupakan judul lagu milik Alfie Alfandy sosok selebritas tanah air, selain sebagai aktor beliau juga pendakwah melalui komunitas motor yang didirikannya (Bikers Dakwah), tak hanya itu beliau juga penyanyi dan penulis lagu religi, tepat ditanggal 09 April 2024 kemarin beliau merilis single barunya yang berjudul “Takbir Dalam Duka”.

Single ini merupakan ungkapan isi hatinya karena harus berpisah dengan bulan mulia Ramadhan. Takbir Dalam Duka juga bentuk kesedihannya mengingat warga Palestina yang masih bergejolak atas serangan Israel.

Penulis mendengarkan single ini diwaktu malam hendak memasuki 1 syawal, dan mencoba untuk mengkorelasikan dengan suasana hati yang dirasakan penulis.

Ramadhan pergi lalu dipertemukan dengan Syawal, 1 Syawal 1445 H hari merayakan kemenangan, kita sebut dengan hari Raya Idul Fitri. Mengapa dikatakan dengan hari kemenangan?, mengingat hadirnya hari raya Idul Fitri, merupakan sejarah dari kemenangan kaum muslim dalam perang badar. Awal mula dilaksanakannya hari raya Idul Fitri pada tahun ke-2 hijriah, secara tidak langsung mereka merayakan dua kemenangan, yaitu kemenangan atas dirinya yang telah berhasil berpuasa selama satu bulan atau kurang lebih 30 hari, dan kemenangan dalam perang badar. Maka dari itu penulis menganalogikan puasa ramadhan sebagai perperangan, namun musuh kali ini bukanlah manusia melainkan pengendali manusia (Hawa Nafsu). Seharusnya hari ini hanya milik mereka yang menang, bagi mereka yang kalah tidak untuk merayakan, akan tetapi perihal merayakan tak hanya berpihak pada yang menang, yang kalahpun berhak untuk merayakan, namun bedanya merayakan suatu kekalahan.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Keluarga Terhadap Jiwa Keagamaan Anak

Dihari kemenangan ini dihiasi dengan lantunan takbir, sebagaimana takbir yang dilantunkan berupa lafadz “ALLAHU AKBAR” yang artinya Allah Maha Besar, menunjukkan bahwa Kebesaran dan Keagungan hanya milik Allah. Pada dasarnya selama Ramadhan umat muslim telah diajarkan tentang kekuasaan Allah, tibalah dihari kemenangan seraya kita melantunkan takbir, sebagai bentuk keagungan kepada sang pemilik segalanya, dan sebagai rasa kerendahan diri dihadapan Allah.

Gemuruh suara takbir kita dengarkan dari berbagai arah. Indah dirasa ketika lantunan takbir ini menyusuri gendang telinga, dan kemudian menetap di berbagai ruang yang ada dikepala. Melahirkan suasana gembira yang sampai melupakan bahwa kita bagian orang-orang kalah, seketika takbir berhenti suasana hati drastis berubah, tanpa sadar penulis serentak berkata “Takbirku dalam keadaan penuh duka”.

Baca juga:  Mahasiswa Gelisah Dengan Kebijakan Kuliah Online Selama Pandemi Covid-19

Kedukaan yang dimaksud penulis tak hanya perihal kesedihan ditinggalkan Ramadhan, atau kondisi kaum muslim dipalestina, melainkan kekalahan diri pada perperangan Ramadhan tahun ini, kesedihan atas banyaknya kegagalan yang didapat, baik gagal sebagai muslim yang kaffah, gagal sebagai lelaki yang tak mampu memainkan peran asmara, bahkan gagal sebagai anak didalam keluarga. Sangat menyakitkan rasanya ketika kekalahan dan kegagalan ini harus dirayakan dalam momen hari kemenangan, untuk merayakan segala kegagalan yang mesti ditangisi, tentu saja menjadi hal yang sangat melukai.

Tak banyak yang bisa diceritakan penulis tentang “Takbir Dalam Duka”
Dari berbagai problematika yang dihadapi penulis menyampaikan pesan yang tersirat pada tulisan ini, mengajak pembaca untuk senantiasa mengevaluasi diri, agar dari banyaknya kekalahan dan kegagalan berbuah kemenangan maksimal. Sehingga dihari kemenangan yang akan datang kita termasuk golongan orang-orang menang. Dan jika merasa termasuk orang yang berduka maka ingatlah, perbaiki pola fikir tentang keimanan dan ketakwaan, karena kita yang sederhana mengartikan iman sebagai keyakinan, maka dengan sepeleh kita mengabaikan ketakwaan, dan ketika ketakwaan tak mampu dimaknai secara hakikat, maka bisa dikatakan gagal sebagai seorang muslim. Pesan terakhir penulis, merujuk pada penggalan lagu yang diciptakan “Ahmad Dhani” (Takkan ada derita bila isi hatimu penuh dengan rasa cinta, cinta kepada Allah), sudahi dukamu dan bergegas meraih kebahagiaan hakiki.

Baca juga:  Berproseslah dan Capai Cita-cita di Waktu Muda Bersama Jurusan Jurnalistik Islam IAIN SAS BABEL

Jadikan hari kemenangan yang penuh duka ini, sebagai momentum untuk menundukkan keakuan diri merasa besar, singkirkan ego besar yang tertanam, tumbuhkan rasa memaafkan untuk diri dan orang-orang disekitar.

Penulis: Kiki Popiando