Pers Mahasiswa: Bukan Sekedar Jurnalis Kampus

by -
Foto by: Hilhamsyah

Sejarah mencatat dalam pertempuran merebut kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, pers tidak sekedar ikut berjuang dengan angkat senjata, tetapi besar peranannya dalam menyebarluaskan semangat revolusi Indonesia ke seluruh dunia, sehingga kemerdekaan bangsa Indoensia diakui negara-negara lain. Di sini lah salah satu peran pers bagi Indonesia

Pada tanggal 21 Mei 1998 Orde Baru tumbang dan berakhir sehingga dimulailah era reformasi. Pada masa reformasi menjadikan pers nasional kembali menikmati kemerdekaannya. Saat kebebasan pers terbuka pasca-1998, semangat reformasi dibidang media semakin tumbuh dalam masyarakat.
Pada masa penggulingan Orde Baaru, pers mahasiswa menjadi alat pengontrol dan penggerak demokrasi. Peran pers mahasiswa dalam sejarah Indonesia dinilai memiliki nilai yag sama dengan pergerakan mahasiswa itu sendiri.
Masa kejayaan pers mahasiswa ditandai dengan berdirinya Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia dan Serikat Pers Mahasiswa Indonesia (SPMI) padatahun 1955. Munculnya wadah bagi pers mahasiswa tersebut salah satunya bertujuan untuk meningkatkan mutu, baik redaksional maupun keperusahaan kepada pers mahasiswa. Dari periode inilah pers mahasiswa mencapai puncak perkembangannya, kebebasan, untuk melakukan aktivitas untuk mengembangkan potensi yang ada.
Pertumubuhan pers mahasiswa sekarang juga sangat pesat, yang awalnya mahasiswa tidak memiliki wadah untuk menyampaikan aspirasi dalam bentuk intelektual sekarang mahasiswa sudah dapat menyampaikan aspirasinya memalui media yang disediakan pers mahasiswa.
Oleh karena itu, perlu pembahasan mendalam terkait pers mahasiswa sebagai media yang mewadahi mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi, kritikan terhadap kampus maupun pemerintah.

Baca juga:  Meylani Ingin Patahkan Ungkapan "Dak Kawa Nyusah" Dikalangan Mahasiswa

Jika ditilik dari sisi tata bahasa, menurut para ahli, penyebutan istilah pers secara etimologi berasal dari kata persen dalam bahasa Belanda atau kata press dalam bahasa Inggris. Keduanya memiliki definisi menekan. Menekan disini bermaksud menunjukkan kondisi masa lalu yang menggunakan pemakaian alat mein cetak yang membutuhkan tekanan yang kuat.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers memaknai pers sebagai lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memeroleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara dan gambar, serta data ddan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.

Pers mahasiswa adalah penerbitan yang dikelola dan diterbitkan oleh mahasiswa dengan dicirikan idealisme kemahasiswaan. Salah satu ciri khas yang melekat dalam pers mahasiswa adalah idealism kemahasiswaan yang dimiliki oleh para aktivisnya.

Baca juga:  Mengapa Harus Transparansi ?

Pada masa era Orde Baru, seperti yang dikutip Wisnu dalam karyanya Francois Raillon (1984), pers mahasiswa memiliki peran penting dalam mendukung ide-ide modernisasi yang dibawa oleh rezim baru. Pengakuan akan potensi pers mahasiswa ini pun semakin terlihat jelas selama era Orde Baru, bahkan menjelang runtuhnya rezim tersebut. Pada masa itu pemerintah mengelurkan berbagai kebijakan dan membatasi redaksi-redaksi mana yang boleh dan yang tidak boleh.

Jika kita berkaca pada Abrar, ia menyebutkan pers mahasiswa adalah pers yang dikelola oleh mahasisswa. Informasi yang ditampilkan merupakan cerminan dari realitas mahasiswa itu sendiri.

Pers mahasiswa memiliki ciri khusus yaitu independensinya yang tidak terikat dengan organisasi yang bekerja dengan rasionalitas ekonomi. Setiap tulisan yang diterbitkan pers mahasiswa memiliki ciri kritis, inovatif, analitis, objektif dan kaya ide. Karya pers mahasiswa berupa idealismenya sebagai mahasiswa untuk menungakan segala daya nalar kritisnya melalui tulisan. Melalui tulisan juga pers mahasiswa mampu mengembangkan dirinya untuk berpikir kritis dan berani bersuara.

Baca juga:  Gelar Kajian, HIMA PI Ajak Mahasiswa Untuk Lebih Peduli Isu Kejahatan Seksual

Sebagai pers mahasiswa tulisan bagaikan nyawa bagi pers mahasiswa. Tanpa adanya tulisan pers mahasiswa akan mati. Tulisan menjadi senjata untuk menyuarakan aspirasi, kritikan. Terdapat banyak jenis tulisan yang dihasilkan pers mahasiswa untuk melawan ketidakadilan, seperti berita, opini, esai, dan artikel.

Semua jenis tulisan tersebut merupakan produk jurnalistik. Salah satunya berita yang sudah menajdi makanan sehari-hari pers mahasiswa. Tentu dalam pembuatan berita terdapat etika penulisan yang baik dan benar. etika penulisan berita merupakan salah satu pedoman yang melandasi wartawan dalam bertindak. Jadi, meski pers mahasiswa bebas untuk membuatkan berita, pers mahasiswa memiliki pedoman dalam menuliskannya dan ada yang mengatur wartawan kampus yang disajikan dalam Kode Etik Jurnaistik.

Kebutuhan terhadap menulis selama ini dalam dunia akademis sangat ditekankan dan yang pasti didunia pers. Kita tidak akan mengetahui sejarah dunia jika tidak adanya tulisan. Didalam pers mahasiswa kita dituntut untuk mengelola informasi menjadi tulisan untuk disuguhkan kepada para pembaca. Bahasa yang digunakan pun memiliki kekhasan tersendiri yakni singkat, padat, sederhana, lugas dan jelas.

Penulis: Hilhamsyah