Pemilu or Pilu???

by -

Carut marut Pesta demokrasi menciptakan generasi
Fanatik dan pemikiran dangkal terhadap rasionalitas, di antara kebisingan dan juga kemunafikan para penguasa yang Menghamba dibalik kezaliman. Bahkan banyak yang menjadi murid abadi tanpa mencerna realitas demokrasi yang seharusnya berdiri tegak tanpa melibatkan kepentingan kekuasaan yang tidak tahu malu, sehingga mampu terhindar dari moralitas negara yang rusak dan menjadi cerminan bagi kalangan masyarakat yg tertindas.

Penjahat tidak pernah membangun negara,
Mereka hanya memperkaya diri sambil merusak negara elektabilitas partai ataupun Paslon yang bersifat memaksa semakin menimbulkan kontradiktif dikalangan publik, ketidaknetralan mencuat setelah pernyataan yang semakin menunjukkan keberpihakan kepada salah satu Paslon namun tidak menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat.

Baca juga:  Ramadhan Berbagi Bersama Mahasiswa KPI IAIN SAS Babel

Generasi milenial yang hanya dicekoki fakta-fakta palsu kemudian mencerna secara mentah-mentah, tanpa menggali informasi lebih aktual, dan juga mereka lebih senang dengan sesuatu yang bersifat pragmatis, terkesan hanya sekedar ikut-ikutan padahal mereka dibutakan oleh kebijakan elit politik ataupun elit oligarki.

Seringkali jabatan disalahgunakan berupa penyelewengan kepentingan bagi kalangan penguasa, yang berusaha memporak-porandakan sistem demokrasi di negara ini, yang dimana kekuasan tertinggi di pegang oleh rakyat namun nyatanya hanya untuk orang yang mempunyai jabatan strategis, agar lebih mempermudah dan melegalkan segala skenario busuk demi melemahkan demokrasi.

Negara tidak akan pernah mencapai tatanan kehidupan masyarakat yang dinilai dapat mensejahterakan rakyatnya apabila masih dipimpin oleh kediktatoran proletariat, oligarki ataupun kapitalis.

Baca juga:  Malam Puncak Penutupan Timah Diksi Nasonal 2020 Berlangsung Meriah

Sudah sepatutnya masyarakat mampu mencerna dan menganalisis melalui edukasi dalam memilih dan memilah dalam forum diskusi publik sehingga yang diharapkan masyarakat berupa keadilan ataupun kesejahteraan tanpa kesenjangan, bukan tentang nominal yang didapati apalagi embel-embel sesuatu yang bersifat pragmatis dan materialis.

Penulis: Abim Sudarma