Part 1 : Ekspedisi Nasional Merajut Mimpi di Pulau Terluar Indonesia

by -

Cerahnya pertengahan Juli waktu itu meninggalkan harmonisasi kenangan yang tak terlupakan di Dusun Trans Malakoni, Desa Malakoni. Salah satu desa yang berada ditengah pesisir pulau Enggano. Pulau Enggano adalah salah satu pulau terluar Indonesia yang terletak di samudera Hindia, persisnya pulau ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, dan merupakan satu kecamatan Enggano. Jarak Pulau Enggano ke Ibukota Provinsi Bengkulu sekitar 156 km atau 90 mil laut melewati pelabuhan Baai (Bengkulu) untuk menuju ke pelabuhan Kahyapu (Pulau Enggano) kurang lebih 12-14 jam dan kemudian dilanjutkan perjalanan darat untuk sampai ke Dusun Trans Malakoni Desa Malakoni kurang lebih 20 menit. Hingga sampai tulisan ini dibuat, jalanan tanah kuning ditambah kerikil kecil, pohon-pohon yang berjejer rapi, kebun warga yang asri di sepanjang jalan hingga banyaknya mobil truk pengangkut pisang menggambarkan layaknya kampung yang wajib kita kunjungi untuk menyegarkan pikiran dari hiruk pikuk keramaian kota.

Baca juga:  BEM Bangka Belitung Gelar Audiensi Kemaritiman: Direktur PT Timah Tidak Ditempat

Mendengar pertama kali Pulau Enggano kita akan bertanya-tanya dimana ia berada. Dan ketika kita mengetahuinya bahwa Pulau Enggano berada di tengah-tengah samudera Hindia, Provinsi Bengkulu pikiran kita akan kemana-mana dan timbul persepsi bahwa Pulau Enggano sebuah pulau pedalaman, tertinggal, tidak berpenghuni, menyeramkan atau bahkan mengerikan. Namun, siapa sangka bahwa Pulau Enggano adalah sebuah pulau yang bisa dikatakan sedang berkembang dimana dibuktikan dengan banyaknya pembangunan akses transportasi dan pembangunan bangunan lainnya. Pulau yang memiliki luas 397,2 KM² ini memiliki kepadatan penduduk sebesar 6,71 jiwa/KM² dengan penduduk yang aman, makmur, dan sejahtera. Disetiap rumah-rumah warga sering kali ditemui banyak pepohonan yang masih asri maupun rerumputan kecil. Meskipun demikian, halaman rumah masyarakat tetap bersih dan enak di pandang. Disamping itu kita juga bisa melihat air laut yang jernih dan jarang sekali kita melihat sampah dipinggiran pantai kecuali tumpukan cangkang kerang.

Baca juga:  Adakan Training Legislatif, Sema IAIN SAS gandeng narasumber dari DPR RI hingga Wakil Ketua I DPM KM UBB.

Jika kita berpikiran bahwa Dusun Trans Malakoni yang terletak di Desa Malakoni ini yang tertinggal, menyeramkan atau pikiran negatif lainnya, itu salah besar. Penduduk disini hampir semuanya ramah kepada siapapun, kenal ataupun tidak, tak terlepas kepada kami sebagai tim ekspedisi, kekeluargaan antar warga nya masih terasa, kebersamaannya, dan sifat gotong royongnya. Itulah Dusun Trans Malakoni, meski zaman terus berubah mereka tetap menjunjung kerukunan antar warga nya. Di desa ini setiap harinya kita akan di suguhi dengan pemandangan masa kecil yang menyenangkan tatkala melihat anak-anak disini jauh dari gadget dan mereka bermain secara bersama.

Sedikit mengenal lebih dalam Dusun Trans Malakoni. Rata-rata pekerjaan masyarakat adalah petani, ada juga sebagai nelayan. Dari mata pencaharian sebagai petani tersebut ada yang bertani dan berkebun. Dari berkebun tersebut dapat menghasilkan pisang yang mana ini merupakan yang terbesar di Enggano seperti yang digambarkan pada awal tulisan. Ketika sore hari kita akan disuguhi dengan sunset yang begitu indah untuk dilihat diujung dermaga maupun ujung pantai. Derasan ombak yang lumayan deras dan banyaknya anak-anak menambah keestetikan sore harinya. Angin sore yang menyejukan dengan burung-burung berterbangan di langit juga menambah keindahan sore di Pulau Enggano.

Baca juga:  Formasi KIP-K Adakan Kegiatan Silaturahmi Keluarga Besar Bidikmisi dan KIP-Kuliah

(Bersambung..)

Penulis : Agung Priyono