MERCUSUAR PERADABAN

by -

Oleh: Nur Fadila
Mahasiswi TBI Fakultas Tarbiyah
IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Siapakah sosok dibalik kesuksesan kita? Penulis akan mencoba merenda kata berdalih dengan pemikiran yang berlawanan arus pada kalimat Untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi. Nantikan Cuma di dapur, di kasur dan di sumur! Atau ungkapan lumrah dikalangan ibu-ibu Percuma Sarjana Ujung-ujungnya jadi Ibu Rumah Tangga juga! Mending ngga usah sekolah! Percuma sekolah tinggi-tinggi! Pembaca yang budiman, tidaklah berlebihan jika kita mengatakan bahwa perempuan adalah tiang negara yang menjadi tonggak keberhasilan dan keagungan daripada kehidupan dan derajat sebuah bangsa.

Seorang penyair Arab mengatakan Al ummu madrosatul ula, Idzaa a’dadtaha a’dadta sya’ban khoirul ‘irq_ seorang ibu adalah pendidikan pertama bagi anaknya. Jika kau persiapkan dengan baik, maka sama halnya engkau mempersiapkan bangsa berakar kebaikan. Karena akan adanya pembelajaran pertama dan utama bagi si kecil nantinya. Sebagai seorang remaja perempuan bukan saatnya lagi kita hanya sibuk dengan euphoria masa muda. Seyogyanya sudah saatnya kita peduli dengan pendidikan yang akan kita lahirkan bagi generasi selanjutnya. Karena dalam hal ini tentu saja akan ada banyak hal yang harus kita ajarkan kepada buah hati kita. Seorang muslimah sebagai contohnya wajib mempelajari ilmu tauhid, ilmu fiqih, akhlak dan sebagainya agar si kecil dapat bertumbuh dengan ilmu pengetahuan yang ditanamkan sang ibu sejak dini.

Baca juga:  Hentikan Galian yang Merusak Negeri Serumpun Sebalai

Memilih menjadi wanita karier atau ibu rumah tangga memang sudah sangat sering digaungkan, namun sebenarnya kita bisa menjadi keduanya. Percayalah dan yakinkan hati tiap perempuan, keberadaannya sebagai wanita karier tidak menutup kemungkinan sekaligus menjadi ibu bagi anak-anaknya sangat dibutuhkan, pun keberadaannya sebagai isteri bagi suami sangat dibutuhkan terlepas sesibuk apapun dia. Bukankah seorang ibu telah terlatih menjadi multitalent? Semoga jawabannya adalah iya. Pandai mengatur waktu dan menjadikannya lebih produktif seiring dengan peran ganda yang dilakoninya. Andaipun belum bisa, menjadi Ibu Rumah Tangga tetaplah pekerjaan mulia yang langsung diamanahkan-Nya.
Di era serba materialistis dan kompleks ini kita mulai kehilangan sosok panutan, sudah saatnya kita menelisik lebih jauh keteladanan perempuan terdahulu. Belajar dari bunda Hajar yang karena kesabaran dan keikhlasannya sumur zam-zam menjadi bukti cinta kasih yang mengalir hingga dinikmati seluruh umat penjuru dunia. Hajar bukanlah tipikal wanita penuntut dan materialis, beliau dengan kesederhanaannya. Buah dari kesabaran muslimah ini bahkan terus mengalir hingga saat ini. (Fajri, 2016)

Mencoba membuka sejarah yang tentu tidak asing lagi di telinga kita tentang ibu generasi penakluk Roma.
Muhammad kecil bertanya, “Bagaimana aku bisa membebaskan wilayah sebesar itu wahai Ibu?”
Ujung bibir wanita patuh baya itu berkata. “Dengan Al-Qur’an, kekuatan, persenjataan, dan mencintai manusi.”
Dengarkanlah pembaca yang budiman, lisan cerdas sang ibu itu lalu terpatri pada jiwa anaknya hingga tumbuh menjadikannya pemuda pembangun peradaban mulia, Muhammad Al-Fatih sang Penakluk Konstatinopel 29 Mei 1453 M. (Anita, 2018)

Baca juga:  UKK KSR-PMI Unit IAIN SAS BABEL Sukseskan Diklatsar Lapangan Angkatan XV 2024

Pendidikan anak adalah bagian dari proses seorang ibu untuk mencetaknya menjadi Qurrota A’yun yang maksudnya adalah keturunan yang mengerjakan ketaatan, sehingga dengan ketaatannya itu akan membahagiakan orangtuanya di dunia dan di akhirat. (Ibnu Abbas ra.) Tidaklah berlebihan jika pepatah mengatakan tunas tidak akan tumbuh jauh dari batangnya, demikan yang terjadi bahwasannya seorang anak tidak akan jauh karakternya dengan perempuan yang melahirkannya.
Sudah menjamur kalimat Woman Behind The Great People yang menitikberatkan betapa peran penting seorang perempuan dalam kesuksesan sesorang. Belajarlah bersabar dari Bunda Asiyah ra. Mari meneladani Bunda Maryam binti Imran yang dengan penjagaan kesuciannya yang luar biasa, Bunda Khadijah binti Khuwailid ra. dengan segenap kedermawanannya, Bunda Fatimah yang tangguh dan menguatkan, Bunda Aisyah seorang muslimah cerdas dan sederet perempuan luar biasa yang mengukir sejarah emas peradaban dunia. Kelangsungan rumah tangga, kebaikan akhlak serta agama seorang suami, bergantung pada isterinya. Dan kecerdasan juga kesalehan seorang anak juga bergantung sekali pada peran sang ibu. Di balik laki-laki hebat ada perempuan yang dahsyat. (Hanifah, 2017)

Baca juga:  Setelah PBAK 2022, 455 Mahasiswa Baru Kembali Ikuti MATA AFATAR

Maraknya kasus degenerasi akhir-akhir ini akan terselesaikan masalahnya dengan menghadirkan sosok ibu yang luarbiasa sebagai lembaga pendidikan utama dan pertama bagi anak-anaknya. Jika kita berbicara tentang solusi kemerosotan akhlak, kasus narkoba, kasus korupsi, tindakan asusila dan kasus-kasus kejahatan lainnya maka rujukan terkecil sebagai kontrol sosial dan sumber pemecahan masalah adalah keluarga. Siapa yang menjadi peneduh dan ketentraman, sumber pengetahuan, simbol cinta dan kasih? Tidak lain dan tidak bukan adalah sosok seorang ibu. Ketika semua ibu mampu menjalankan perannya sebagai seorang isteri bagi suaminya dan sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya maka hal ini akan menekan mundur masalah yang menjadi pemicu kasus-kasus yang kompleks saat ini. Sampai pada titik ini, masih menganggap remeh mengapa perempuan harus berpendidikan? Begitu besarnya peran seorang perempuan pun seorang ibu dalam membangun mercusuar peradaban.

 

TENTANG PENULIS
Nur Fadila, penulis buku “Semua Tentang Waktu dan Kamu”, saat ini adalah mahasiswi TBI IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bnagka Belitung, memiliki motto, “Hidup untuk menebarkan cahaya bermanfaat dan berguna bagi sesama”. Bisa bergabung di email : fnur51707@gmail.com, Instagram : nfadl__