Menemukan Hikmah Puasa Melalui Perspektif Psikologi Tasawuf: HIMA-PI Sukses Gelar Buka Puasa Bersama

by -

Himpunan Mahasiswa Psikologi Islam (HIMA-PI) mengadakan acara buka puasa bersama dan kultum dengan tema “Mengikat Tali Kekeluargaan Psikologi Islam di Bulan Penuh Berkah” yang bertempat di mushola Gedung Serba Guna Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung pada hari Kamis (13/04/2023).

Acara ini dihadiri oleh para dosen dan staf pengajar, seluruh pengurus HIMA Psikologi Islam, dan mahasiswa/i Prodi Psikologi Islam. Acara ini dimulai pada pukul 16.00 WIB dengan tilawah Al-Qur’an, dilanjutkan dengan laporan kegiatan dari ketua pelaksana, dan sambutan ketua umum HIMA-PI kemudian dilanjutkan dengan kultum yang disampaikan oleh Zulkarnain, M.A., salah satu dosen Psikologi Islam IAIN SAS Bangka Belitung.

Kultum yang disampaikan oleh Zulkarnain M.A., yang membahas tentang hikmah puasa melalui perspektif psikologi tasawuf. Beliau menjelaskan bahwa puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus, namun juga sebagai latihan untuk mengendalikan diri dan mengembangkan kesabaran serta keteguhan hati. Dalam perspektif tasawuf, puasa juga dianggap sebagai salah satu cara untuk memperkuat ikatan antara manusia dengan Sang Pencipta.

Baca juga:  Siap Melanjutkan Tongkat Estafet Perjuangan, Ormawa Fakultas Tarbiyah Masa Bakti 2022-2023 Resmi Dilantik

Selama sesi kultum, ada tiga poin utama yang ditekankan oleh pemateri dalam membahas hikmah puasa melalui perspektif ilmu tasawuf yakni : mahabbah, ma’rifatullah, dan mujahadah. Ketiganya merupakan konsep-konsep yang erat kaitannya dengan puasa.

Mahabbah (cinta) adalah cinta kepada Allah SWT. yang tulus dan ikhlas. Puasa adalah salah satu cara untuk meningkatkan mahabbah kepada Allah SWT., karena dengan berpuasa, seseorang dapat membuktikan kesetiaannya kepada Allah SWT. dan menguatkan ikatan cintanya dengan-Nya.

Ma’rifatullah (pengetahuan tentang Allah) adalah pemahaman yang mendalam tentang sifat-sifat Allah SWT. dan mengenal-Nya lebih dekat. Puasa juga dapat membantu seseorang dalam memperoleh ma’rifatullah, karena ketika seseorang berpuasa, ia memperoleh pengalaman tentang kesulitan yang dihadapi oleh orang-orang yang kurang beruntung. Dengan begitu, seseorang dapat merasa lebih dekat dengan Allah SWT dan lebih memahami sifat-sifat-Nya yang mulia.

Baca juga:  PPMI DK Babel Adakan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar Untuk Wujudkan Pewarta Kritis dan Arif

Mujahadah (pengendalian diri) adalah upaya untuk mengendalikan hawa nafsu dan menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Puasa merupakan salah satu bentuk mujahadah yang paling utama, karena dengan berpuasa, seseorang belajar untuk menahan diri dari makan, minum, dan aktivitas-aktivitas lainnya yang dilarang selama puasa. Selain itu, puasa juga membantu seseorang untuk lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan memperoleh kebiasaan baik, sehingga dapat membantu dalam mengendalikan hawa nafsu dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang tidak baik.

Dalam kesimpulannya, mahabbah, ma’rifatullah, dan mujahadah adalah konsep-konsep penting dalam ilmu tasawuf yang berhubungan dengan puasa. Puasa dapat membantu seseorang untuk meningkatkan mahabbahnya kepada Allah SWT., memperoleh ma’rifatullah, dan melakukan mujahadah untuk mengendalikan diri dan meningkatkan kualitas hidupnya sebagai seorang muslim yang lebih baik.

Baca juga:  Kepengurusan Baru Formasi KIP-K IAIN SAS Babel Kembali Adakan Kegiatan ORMA KIP-K 2023

Acara ini ditutup dengan doa, buka bersama dan sholat maghrib berjamaah. Alfiyyah, selaku ketua umum HIMA-PI mengatakan, “Buka puasa bersama ini merupakan salah satu bentuk syukur yang kita wujudkan untuk merawat silahturrahmi yang selama ini sudah terjalin dengan sangat baik di lingkungan keluarga besar program studi Psikologi Islam.”

Penulis: Andi Kusuma