Mahkota Surga

by -
Persassiddik.com adalah situs resmi Unit Kegiatan Kampus (UKM) pers di Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung
Persassiddik.com adalah situs resmi Unit Kegiatan Kampus (UKM) pers di Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Aku berdiri di depan jendela kamar seraya menatap dedaunan yang melambai-lambai diterpa angin. Burung-burung mulai kembali menuju sarang mereka masing-masing menemui keluarganya setelah seharian mencari makanan. Sang surya mulai bersembunyi di balik peraduan. Cahayanya yang khas membuatku semakin hanyut dalam keindahan alam semesta, ciptaan Yang Maha Kuasa ini. Aku bersyukur karena sampai saat ini, aku masih bisa merasakan nikmat kehidupan yang telah diberikan oleh-Nya. Tak terasa air mataku menetes. Tiba-tiba saja sebuah kerinduan yang teramat dalam datang menusuk relung hatiku. Aku merindukan sosok yang selama ini tak pernah kulihat lagi. Sosok yang dulu pernah hadir dalam hidupku sebelum sebuah peristiwa pahit memaksa kami untuk berpisah. “Aku merindukanmu, Ayah.” ucapku lirih. Meskipun hati masih terasa sakit jika mengingatnya, tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Aku rindu suaranya, cerita-ceritanya, humornya yang sebenarnya tak lucu, dan sambal buatannya yang khas. Aku benar-benar rindu semua itu.

Aku mencoba untuk membongkar memori tentang peristiwa pahit itu. Saat itu, aku duduk di kelas 11 MA. Aku memiliki dua orang adik. Adik perempuanku kelas 9 MTs., ia mondok di Pesantren. Sedangkan adikku yang laki-laki kelas 5 SD. Belum lama setelah kakekku meninggal dunia, ayahku jatuh sakit. Sehingga yang menjadi tulang punggung keluarga adalah ibuku. Ibuku bekerja sebagai seorang buruh di sebuah PT. Gajinya memang tidak besar, namun masih bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari meskipun terkadang harus hutang dulu. Untungnya saat itu aku sedang libur sekolah karena kelas 12 sedang menghadapi Ujian Nasional sehingga aku bisa membantu menjaga ayah ketika ibu bekerja. Aku dan ibu bergantian menjaga ayah pada siang hari, namun pada malamnya ibuku melakukannya sendiri. Terkadang aku kasihan melihat ibu. Selain mengurusi ayahku yang sakit, ia juga mengurusi adiknya yang memiliki gangguan jiwa. Seringkali adiknya yang tak lain adalah pamanku itu mengamuk sehingga membuatnya meminta bantuan kesana kemari untuk biaya pengobatan paman. Banyak warga yang melimpahkan kesalahan ulah pamanku kepada ibuku. Padahal ibuku memiliki enam saudara dan ia bukanlah anak pertama. Ia memiliki seorang kakak laki-laki yang seharusnya lebih pantas untuk bertanggung jawab terhadap adik-adiknya. Mungkin karena kami yang paling dekat, sehingga banyak warga yang melimpahkannya pada ibuku. Namun, ibuku tetap saja sabar menghadapinya.

Baca juga:  Menelusuri Jakarta

Setelah ayahku sembuh, kami pindah rumah karena tidak tahan dengan perkataan warga terhadap keluarga kami yang dari awal sudah dipandang sebelah mata. Masa liburku juga sudah berakhir. Aku harus kembali ke asrama. Tinggal lah ayah, ibu, dan adik laki-lakiku di rumah. Beberapa waktu kemudian ibuku sering mengatakan padaku bahwa ayahku banyak berubah setelah ia sembuh. Ayah lebih sensitif dan pemarah. Ia sangat jarang berada di rumah. Ia lebih suka kumpul dengan teman-temannya bahkan hingga tidak pulang sampai pagi. Ketika ibuku menegur, ayah selalu menyalahkan ibuku yang tidak bisa menjadi istri yang baik. Bahkan, ia juga menuduh ibuku selingkuh dengan laki-laki lain. Hal ini karena ibuku sering menelepon laki-laki lain, menurutnya. Padahal aku tahu bahwa ibu menelepon untuk meminta bantuan ketika pamanku sakit. Suatu hari aku mencoba untuk membicarakannya dengan ayahku. Namun, yang ku dapatkan hanya lah kata-kata yang tak bisa aku lupakan hingga sekarang. “Kamu sama saja dengan ibumu ! Apakah Kau tahu bahwa sebelum Ayah sakit seluruh biaya sekolah dan kebutuhanmu Ayah yang tanggung?” teriak ayahku dengan mata memerah. Aku terdiam seketika. Hatiku hancur berantakan. Air mata mengalir tanpa disadari. Ketika itu, yang aku pikirkan hanya satu, aku adalah beban dalam keluarga ini. Aku juga sering mendengar ibu mengeluh mengenai biayai sekolah kami. Ingin rasanya aku berhenti sekolah saja dan bekerja membantu ibu. Namun, pada saat itu aku sudah menginjak kelas 12. Sedikit lagi akan menyelesaikan jenjang MA. Pikiranku benar-benar kacau. Aku sering menangis sendirian di asrama. Aku tidak bisa fokus dalam belajar. Impian dan cita-citaku untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya telah sirna. Aku juga menyadari bahwa SPP-ku sudah lama menunggak. Aku tidak menceritakannya pada ibuku. Aku tidak ingin mendengar ibuku mengeluh. Untuk menutupi SPP tersebut, aku harus meminjam uang pada temanku dan aku bayar dengan uang makanku atau uang yang aku dapat sebagai juara kelas dan beberapa perlombaan.

Baca juga:  Cinta Risa

Pada suatu hari, ibu meneleponku. Ia meminta pendapatku untuk pisah rumah dengan ayah. Ibu bilang bahwa ia sudah tidak tahan lagi hidup bersama ayah. Aku berusaha tersenyum dan mengatakan bahwa aku tidak apa-apa jika ibu mencari tempat tinggal lain. Aku tahu hal tersebut bertentangan dengan hati nuraniku, tapi aku juga memahami perasaan ibuku dengan sikap ayahku yang kasar. Aku tidak punya pilihan kecuali menyetujuinya. Akhirnya, ayah dan ibuku benar-benar berpisah. Aku sangat tertekan dengan kejadian ini, apalagi setelah aku mengetahui bahwa ibuku ternyata dekat dengan laki-laki lain. Hal ini lah yang membuatku semakin kuat untuk menyuruh ibuku mengajukan gugatan cerai. Karena aku takut hal tersebut dapat menimbulkan fitnah di kalangan masyarakat. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Aku bingung. Aku merasa sangat lemah dan tak berdaya. Tetapi aku tidak boleh terlihat lemah oleh adik-adikku. Aku tidak ingin menambah kesedihan mereka. Ibuku mengatakan alasan ia menerima laki-laki tersebut adalah karena laki-laki itu mau menanggung biaya kuliahku. Kesedihanku bertambah. Aku semakin merasa bahwa aku benar-benar menjadi beban orang tuaku. Tetapi aku juga tidak bisa memutuskan untuk berhenti melanjutkan studi. Jika pada akhirnya aku berhenti, maka aku akan bekerja sekuat tenaga untuk membiayai sekolah adik-adikku agar mereka tidak sampai sepertiku. Namun, Tuhan berkata lain. Aku diterima di sebuah universitas Islam tanpa harus melalui tes. Aku mulai berpikir dua kali untuk berhenti melanjutkan studi. Keinginanku hanya satu, Aku tidak ingin menjadi beban ibuku dalam biaya kuliahku. Aku mencari berbagai informasi mengenai beasiswa dan mencoba untuk mendaftarkan diri. Alhasil, aku berhasil lulus beasiswa dan seluruh biaya kuliahku ditanggung oleh pemerintah. Aku tidak menyangka hal tersebut bisa terjadi. Tetapi aku yakin bahwa Tuhan telah menunjukkan Kebesaran-Nya. Aku tak mampu menahan derai air mata dalam sujudku. Betapa tidak, diriku yang penuh dengan dosa dan sering lalai dalam menjalankan perintah-Nya masih saja diberikan kasih sayang yang luar biasa oleh-Nya. Aku benar-benar tak dapat berkata apa-apa selain bertasbih memuji kebesaran-Nya.

Baca juga:  Mengukir Kedewasaan Dalam Ranah Tiga Serangkai

Setelah itu, aku memutuskan untuk tinggal di asrama kampus yang kebetulan memiliki program tahfidz al-Quran. Karena aku terus-terusan membebani orang tuaku di dunia dan aku tidak mungkin bisa membalas jasa mereka, maka setidaknya aku bisa memberikan mereka kehormatan di akhirat kelak. Oleh karena itu, aku bercita-cita untuk menjadi seorang hafidzah. Guruku pernah berkata bahwa seorang penghafal Quran bisa memberikan mahkota dan jubah kehormatan untuk kedua orang tuanya di akhirat kelak. Aku adalah seorang perempuan. Aku tidak mau ayah diseret ke dalam neraka hanya gara-gara dosaku di dunia.

“Ayah, Ibu, meskipun Kalian berpisah, namun Kalian tetap menyatu di hatiku” ucapku di dalam hati. Seraya terus menatap pemandangan sore yang indah.[]

Tentang Penulis: Adinda Safitria

Avatar
Staf Redaksi