Cinta Risa

by -

OLEH:FITRIANI

Pagi ditemani secangir teh hangat dan beberapa cemilan ringan mungkin lebih mengasikkan daripada melamunkan hal-hal yang dianggapnya penting namun sebenarnya tidak begitu penting, disebuah pelataran rumah sunyi hanya ada seorang gadis yang duduk termangu diam wajahnya mendongak ke atas langit pagi, mendengarkan kicauan burung greja yang terbang mencari makan dan merasakan hembusan angin menerpa rambut panjangnya.

Risa Nur Cahyani seorang gadis berusia 23 tahun dengan beberapa kekurangannya membuatnya tak dapat menjalani kegiatannya seperti manusia lainnya, Risa memiliki tubuh tinggi kira-kira 180 cm, putih kulitnya membuatnya nampak cerah, namun sayang ia tak dapat memandang indahnya mentari pagi dan menatap sang surya di sore hari kala mentari akan kembali ke persembunyiannya.

Risa hanya tinggal bersama dengan seorang nenek dan kakeknya, orang tuanya meninggal beberapa tahun lalu.
“Risa…kamu sedang apa nak?” nenek Risa menghampiri dipelataran rumah.
“Tidak nenek, Risa hanya sedang memikirkam sesuatu” jawab Risa dengan nada berat.
“Memikirkan apa sayang?” nenek Risa mengusap ujung rambut Risa dengan lembut.
“Memikirkan masa depan nek” Risa tersenyum dibalik kegelisahan hatinya.
“Risa. Nenek tahu kalau kamu cemas, tapi yakinlah suatu saat nanti kamu akan tahu bagaimana masa depanmu kelak”
“Bagaimana caranya nek?” Risa kembali meratapi nasibnya.
“Kamu akan tahu sayang”

Risa tak lagi menjawab, nenek mengajak nya masuk karena hari semakin siang dan Risa juga belum makan nasi dari pagi.
Siang ini Risa hendak berjalan-jalan dengan membawa tongkat ditangannya, sebagai petunjuk jalan tanpa sengaja. Dan tanpa sadar seseorang dri belakang menyambar sisi lengan Risa hingga ia hampir terjatuh.
“Aaa…” teriak Risa karena kaget.
“Maaf…ma…” pria yang menabrak Risa terdiam sesaat melihat kondisi Risa yang begitu memilukan.
“I…iya tak masalah” Risa menjawab karena sempat mendengar kata maaf walau sekali.
“Apa boleh saya bantu?” pria itu menawarkan diri membantu Risa.
“Tidak…tidak masalah aku bisa sendiri” tolak Risa.
“Tak apa, saya bisa mengantarmu pulang jika mau”
Tapi dalam benak Risa ia tak ingin pulang, ia ingin pergi ke suatu tempat dimana nalurinya kini menunjukkan arah jalannya.

“Mengapa diam?” pria paruh baya itu menepuk bahu Risa perlahan.
“Boleh saya minta bantuannya?”
“Ohh…iya boleh…boleh” senyum memgembang dari pria itu terlihat jelas. Namun tak dapat dilihat oleh Risa sendiri.

Setelah diperjalanan Risa tak berkutik sama sekali, ia canggung begitu juga dengan pria yang mengantarkannya.
“Emm…maaf kalau boleh tau nama kamu siapa?” pria itu menoleh kearah wajah Risa yang tenang.
“Risa”
“Oke…nama saya Bayu”
Risa hanya tersenyum tanpa mengatakan sesuatu.

Tak lama perjalanan mereka sampai pada sebuah makam yang luas, Risa turun dan menemui tukang kebun yang merawat pemakanan orang tuanya selama ini.
“Pak, antarkan saya ke makam ayah, ibu saya”
Deg
Hati Bayu seakan terhantam sebuah batu besar, ia memikirkan bagaimana seorang Risa dengan kekurangan nya masih mampu mengingat orang tuanya kini telah tiada.
Bayu mengikuti langkah Risa bersama dengan pak Tono penjaga pemakaman itu.
Tak jauh dari tempatnya berdiri sampailah mereka dimana tempat orang tua Risa terbaring untuk selamanya.
FLASHBACK ON
Bayu seorang pria berusia 25 tahun seorang anak kuliahan dan itu miliki banyam kelebihan di keluarganya, namun ia menjadi brutal setelah keluarganya hancur, perusahaan papahnya bangkrut dan lagi mamahnya yang terjerat obat terlarang membuat Bayu tak dapat menerima semua itu, latar belakang Bayu memang diketahui banyak orang dari segi kekayaan bahkan ketampanan yang membuatnya buta akan kehidupan duniawi, ia sering berfoya-foya, menraktir trman kampusnya, dan memiliki banyak sekali kekasih, mungkin karena ketampnanan dan kekayaan itulah yang membuat para kaum hawa mendekatinya, namun setelah Bayu kehilangan semuanya, kini ia menjadi seorang yang pendiam dan tak ingin melakukan hal buruk seperti itu.
Keluarganya bercerai berai, papahnya tak lagi peduli padanya bahkan setelah istrinya dipenjara ia sering membawa wanita lain untuk berpesta dirumahnya, dan tak lama Bayu frustasi sejak saat itu ia menjadi seorang yang tertutup.
FLASHBACK OFF
“Bayu…” panggil Risa membuat Bayu memalingkan wajahnya.
“I…iya”
“Ayo pulang, saya sudah selesai mengaji” ujar Risa tanpa merasa ragu.
“Boleh saya tanya sesuatu?” Bayu merapikan rambutnya yang menutupi keningnya.
“Boleh tanyakan saja”
“Apa kamu tidak takut terhadap saya?”
Risa sedikit menyunggingkan senyumnya, membuat Bayu salah tingkah dibuatnya.
“Takut kenapa?” Risa masih berjalan perlahan menjauhi pemakaman.
“Aku ini preman”
“Astagfirallah halazim” Risa menghentikan langkahnya.
“Dulu, saya preman tapi sekarang ngak lagi” jawab Bayu tanpa merasa berdosa.

Baca juga:  Menelusuri Jakarta

Risa tak menjawab apa-apa ia hanya ingin tahu apa yang akan dilakukan Bayu setelah ia mengatakan bahwa ia seorang preman.
***
Sore ini hujan menguyur seluruh muka bumi, menyejukkan hati setiap insan yang menyukai hujan namun ada pula yang membencinya karena menurutnya hujan akan membawa kegelisahan dalam hatinya. Terutama Bayu, ia mengingat akan hujan masa lalu, kini ia membaringkan tubuhnya disebuah sofa panjang matanya mengingat sosok wanita yang ia cintai dari semua wanita yang menjadi kekasihnya dulu.
Sosok wanita yang periang, wajah yang tak pernah muram, senyum yang tergambar jelas diwajah putihnya membuat Bayu selalu ingin bersamanya, menemaninya dan menghabiskan waktu bersamanya sepanjang hari, namun semua itu sia-sia dan hanya halusinasinya, nyatanya wanita yang ia cintai dan begitu ia sayangi tak lagi ada bersamanya.
“Andai waktu itu aku bisa menyelamatkanmu” pekik Bayu dalam hatinya, seakan menyesali semua yang telah berlalu bersama kenangan masa lalu.
Kini mata Bayu berkaca-kaca, ia menitikkan air mata tanpa sengaja dan menghapusnya kembali walau air mata itu terus saja memghujani pipinya.
Malam semakin larut, awan mendung masih mengantung dilangit, Bayu tertidur disofa tanpa ia sadari dan mengingat sosok Risa.
Risa yang begitu sederhana dan wajahnya yang tenang membuat Bayu seakan ingin menemuinya walau hanya sesaat, namun apakah bisa ia menemuinya?, hati Bayu sedikit tergejolak.
Jam menunjukkan pukul 18:56 Bayu sudah siap dengan jaket kulitnya, motor ninja warna hitam bergaris putih yang sering ia gunakan untuk menjemput kekasih kesayangannya.
Bayu melaju dengan kecepatan tinggi. Hingga tak menghiraukan hujan yang masih sedikit deras walau tak deras seperti sebelumnya.
Motornya berhenti disebuah pelataran rumah kecil dimana Risa tinggal, karena sempat mengantarkan sampai rumah ia jadi tahu dimana rumah Risa sebenarnya.
Entah mengapa Bayu merasa kalau dirinya harus menemuinya sekarang, seakan hatinya mengatakan Risa sedang membutuhkanmu.
“Permisi”
“Iya…silahkan masuk” kakek Risa mempersilahkan Bayu masuk tanpa harus merasa ragu.
“Kakek, apa boleh saya menemui Risa?” Bayu dengan nada halus berucap pada kakek Risa.
“Risa…dia dikamarnya, saat ini ia sedang diobati nenek…karena sesaknya kembali kambuh” jelas kakek Risa.
Bayu seperti mengingat sesuatu, sesak nafas adalah sakit yang diderita kekasihnya dulu.
Bahkan Bayu sempat menerka-nerka apakah Risa adalah sosok yang ia cari selama 3 tahun ini setelah keluarga nya hancur dan tak lagi bisa mencukupi kasih sayang orangtua nya melebihi apa yang kekasihnya itu berikan padanya, namun kenapa? Kenapa namanya Risa, sedangkan kekasihku bernama Hanum? Bayu semakin binggung mrmikirkannya.
“Bolehkah aku masuk kek?” hati Bayu berdetak kencang seakan nafasnya terburu sesuatu.
Ia melangkahkan kakinya tempat diambang pintu masuk, ia menemukan sebuah foto terpajang di atas ranjang Risa, dan benar saja, itu adalah dirinya seorang pria yang begitu dekat dengannya. Risa adalah Hanum? Batin Bayu seakan ia ingin memeluk Risa dengan erat.
Tak lama setelah nenek memberikan obat tradisionalnya sesak nafas yang diderita Risa kini hilang meski terkadang sesak itu akan kembali dan kembali lagi.
“Nek, boleh saya tahu tentang masa lalu Risa?” Bayu mengatakan itu demi membuktikan keyakinannya bahwa Risa adalah Hanum.
“Dulu, sekitar berapa tahun lalu, nenek dan kakek menemukan Risa disebuah hutan lebat, banyak yang tak mengetahui karena apa dia terjatuh kesana namun nenek dan kakek berupaya keras membawa Risa ketempat yang aman, karena setelah sadar Risa tak mengingat kejadian itu, nenek dan kakek menyimpulkan bahwa Risa mengalami kecelakaan karena bukan hanya kedua matanya yang tak dapat melihat, waktu itu Risa tak mengingat semuanya, namanya bahkan keluarganya. Dan berapa bulan lalu, ada seorang polisi mencari seorang anak dan sampailah teka-teki itu terpecahkan, orang tua Risa meninggal dan tak daat terselamatkan karena kecelakaan yang dialaminya berapa tahun lalu” jelas nenek panjang lebar.
Bayu tak ingin menyinggahi cerita itu, ia terus saja mendengarkan apa yang terjadi pada Risa.
“Karena nenek dan kakek tak memiliki seorang anak maka Risa kami beri nama Risa Nur Cahyani, dan melupakan nama aslinya yang nenek dan kakek juga belum tahu sebelumnya setelah polisi datang ia mem beritahukan semuanya, namun nenek dan kakek bersikeras untuk merawat Risa sampai sebesar ini, namun karena tak ada biaya untuk pengobatan Risa. Nenek dan kakek selalu berikan Risa obat tradisional untuk kesembuhan matanya, dan kesembuhan kesehatan lainya”
“Lalu apa dengan begitu Risa akan bisa melihat lagi?” Bayu semakin antusias.
Nenek hanya menggelengkan kepalanya dan menunduk seakan telah berputus asa.
“Bayu akan membantu demi kesembuhan Risa nek” ujar Bayu membuat nenek menatapnya dan menatap kakek dibelakang Bayu.
“Besok kita bawa Risa ke rumah sakit untuk operasi mata”
Senyum mengembang terlihat di sungkingkan oleh suami istri yang telah lanjut usia.
***
Hari terus berlalu setelah Risa menjalani opersai kini ia bisa kembali menatap indahnya langit dan senyumnya kembali mengembang seperti dulu, saat Bayu melihatnya untuk pertama kalinya.
Risa tak ingin melupakan nenek dan kakeknya yang telah merawatnya sampai sebesar itu, ia memutuskan untuk membawa nenek dan kakek nya kerumah yang ia tinggali dulu bersama orang tuanya, dengan petujuk dari Bayu yang mengantarkan ia sampai kerumah Risa dulu.
“Bayu” panggil Risa lembut.
“Iya?”
“Terima kasih kamu telah mrmbantuku”
“Tak perlu berterimakasih, seharusnya aku yang berterimakasih pada mu, karena kamu adalah wanita yang aku cari selama ini, dan aku bersyukur mendapatkanmu lagi” Bayu menyunggingkan senyum terlihat jelas wajah Risa dimatanya seperti Hanum miliknya dulu.
“Risa atau Hanum sama saja” kekeh nya membuat Risa memanyunkan bibirnya.
“Risa, boleh aku hidup bersamamu sampai kakek nenek?”
Risa menatap Bayu yang tak pernah ia ingat lagi seperti apa Bayu yang dulu.
Risa mengangguk, Bayu memeluk erat tubuh Risa sampai ia benar-benar puas memeluk kekasih yang dulu pernah menghilang darinya.
“CINTA RISA….!” teriak Bayu dilapangan luas.
“Bayu…!”
Mereka kembali tertawa seakan tak ada beban hidup yang akan mereka jalani setelah ini, kehidupan memang begitu adil, jika kita di pertemukan maka yakinlah itulah jodohmu yang akan menemanimu sampai ujung usiamu, sampai maut memisahkanmu, sampai allah memberimu cobaan yang akan membuatmu selalu mengingatnya, memgingat akan kebesarannya, jodoh didepan mata, namun terkadang kita menyia-nyiakannya dan membuat mereka terluka begitu juga kita yang akan menyesali perbuatan dimasa yang akan datang.

Baca juga:  Mengukir Kedewasaan Dalam Ranah Tiga Serangkai

Cinta Risa

Tamat

Author pov
Jika cinta sudah percaya maka allah akan menyatukan mereka, sejauh apa mereka berpisah jika allah telah percaya ia sanggup menjaga amanahnya, maka ia akan mempertemukannya, menyatukannya dan merestui hubungan keduanya.
Aamin

Tentang Penulis: Redaksi Persassiddik.com

Avatar
Persassiddik.com adalah situs resmi Unit Kegiatan Kampus (UKM) pers di Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.