Apa Jadinya Organisasi Dengan Prinsip “Dak Kawa Nyusah”

by -
Foto:Siham Zaed

Penulis :Siham Zaed

Ada yang hal yang menarik yang perlu kita renungkan bersama. Yaitu kondisi mahasiswa yang saat ini sungguh memperihatinkan. Banyak yang tidak mengerti arti dari Mahasiswa. Mahasiswa yang ada di benak para Mahasiswa sekarang hanyalah belajar dikelas, lulus cepat, dan IPK cumlaude. Saya tidak menyalahkan hal tersebut. Namun, ada satu hal yang harus kita bahas yaitu arti mahasiswa tidaklah sesederhana itu. Jika saat ini anda masih mengartikan mahasiswa hanya kegiatan akademik semata. Anda salah besar.

Mahasiswa itu adalah makhluk istimewa. Karena hanya Mahasiswa makhluk yang mendapat gelar “Maha”, maha atas kemahasiswaannya. Mahasiswa tidak terikat oleh pihak manapun atau intervensi suatu lembaga kecuali terikat pada Yang Maha Esa. Mahasiswa itu sangat istimewa karena mahasiswa tidak hanya belajar hidup untuk dirinya, tetapi untuk Tuhan, bangsa, negara dan almamaternya. Mahasiswa juga memiliki tanggung jawab yang sangat besar yang harus di emban, karena tidak semua orang bisa menjadi mahasiswa. Banyak diluar sana yang tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Bayangkan betapa beruntungnya anda bisa kuliah saat ini. Dan sungguh ruginya mahasiswa saat ini tidak bisa memanfaatkan gelar Mahasiswanya. Mahasiswa sekarang sangatlah mudah menyederhanakan makna dari Mahasiswa.

Ada yang mengatakan bahwa mahasiswa itu agen of change, dan ada juga yang mengatakan sebagai social control. Namun saya kurang setuju, jika gelar ini ditujukan kepada seluruh mahasiswa. Karena mereka yang benar-benar agen of change adalah mahasiswa yang mau merubah hidupnya terlebih dahulu. Dan ini menjadi masalah mahasiswa sekarang ini. Mahasiswa sekarang ini masih banyak yang tidak bisa move on dari masa sekolah. Yang hanya belajar dikelas dan hanya memperdulikan diri sendiri. Sangatlah egois jika mahasiswa hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa peduli masalah sosial sekitar kehidupannya. Buktinya saja ketika diajak untuk ikut suatu organisasi, mereka mengabaikannya. Bahkan ajakan untuk ikut organisasi tersebut sangatlah populer setiap tahunnya. Tetapi yang mendaftar sangatlah sedikit. Dan bahkan ada beberapa organisasi itu menawarkan ke orang-orang untuk ikut bergabung di organisasi mereka, hal ini karena kurangnya mahasiswa yang mau ikut organisasi.

Baca juga:  New Normal Dihadapan UMKM

Mahasiswa dan organisasi suatu hal yang tidak bisa dipisahkan. Telah banyak orang yang sukses karena ikut organisasi. Dan bahkan ribuan riset menyebutkan bahwa organisasi sangatlah penting. Dengan organisasi kita bisa melatih publik speaking kita, melatih daya kritis kita terhadap lingkungan, mengembangkan potensi yang kita miliki, melatih dalam menyelesaikan masalah dan memperluas jaringan.

Namun, sekarang ini minat untuk berorganiasasi sangatlah kurang. Bahkan ada organisasi di beberapa kampus organisasinya sempat vakum, karena kurangnya minat mahasiswa untuk berorganisasi. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi minat dalam berorganisasi. Persepsi mereka terhadap organisasi kebanyakan negatif.

Di Bangka Belitung sendiri, mahasiswa dalam berorganisasi masih rendah, hal ini karena adanya satu kalimat yang sudah mendarah daging yaitu “Dak Kawa Nyusah” atau tidak mau bersusah payah. “Dak Kawa Nyusah” sangatlah populer bagi mahasiswa di Bangka Belitung. Dak Kawa Nyusah memberikan efek negatif yang membuat orang terus menerus bermalas-malasan dan jika melakukan sesuatu sesuai mood mereka, dan mereka lebih senang melakukan yang berbau hiburan dan tidak banyak menguras energi, apalagi menguras pikiran.

Baca juga:  Untuk Teman-Teman Ku Yang Disana

Alasan tugas kuliah juga menajdi sebab kurangnya minat berorganisai baik yang tidak ikut organisasi maupun yang sudah bergabung ikut organisasi. Tugas kuliah menjadi senjata bagi mereka yang tidak mau ikut organisasi. Kebanyakan takut tidak bisa bagi waktu antara tugas dan organisasi. Padahal, mereka yang ikut organisasi apakah juga tidak ada tugas? Terus bagaimana kuliah mereka? Bukankah lancar-lancar saja, dan bahkan nilai mereka ada yang melebihi tidak ikut organisasi. Kemudian bagi mereka yang bergabung di organisasi namun tidak aktif di organisasi karena alasan tugas, merupakan suatu fenomena yang mewabah di kalangan mahasiswa. Merka hanya numpang tertawa. Hanya ada di pelantikan dan di akhir pengurusan. Lebih parahnya lagi, orang seperti ini membawa nama organisasi untuk kepentingan pribadi. Naudzubillahhhhh. Satu hal yang perlu kita tanmakan yaitu prestas akademik merupakan kewajiban kita kepada orang tua, namun aktif organisasi dengan kontribusi besar merupakan kewajiban kepada Yang Maha Esa , bangsa, negara, dan almamater kita.

Kurangnya minat organisasi Mahasiswa di Bangka Belitung juga dipengaruhi oleh kebiasaan, yaitu kebiasaan pulang kampung. Kebanyakan Mahasiswa merupakan asli Bangka Belitung yang mana jarak antara rumah dan kampus sekitar 2-3 Jam perjalanan. Ini merupakan kebiasaan rata-rata mahasiswa. Setiap minggu mereka pulang ke desa nya masing-masing. Hal tersebut berdampak kurang produktifnya mahasiswa, karena banyak mahasiswa lebih mementaingkan pulang kampung dari pada ikut kegiatan di kampus. Jangankan aktif di organisasi di ajak kumpul aja mereka tidak mau begitu pula yang bergabung di organisasi, ketika mereka diajak rapat atau sekedar kumpul biasa, pulang kampung sering menjadi trending topik setiap minggunya. Dan ini berakibat sulit berjalannya oragnisasi karean kekurangan Sumber Daya Manusianya. Saya tidak menyalahkan hal demikian, namun perlu disadari bahwa mahasiswa itu memegang peran penting bagi bangsa dan alangkah baiknya pulang kampung itu diatur proporsinya.

Baca juga:  Pembekalan Praktek Profesi FDKI Tahun 2021 :Tingkatkan Interpersonal Skill Mahasiswa pada Era Revolusi Industri 4.0 di Masa Pandemi Covid-19

Padahal jika bergabung dengan organisasi kita bakalan banyak mendapatkan manfaat. Contohnya saja ketika kita bergabung dengan oragnisasi kita akan bertemu dengan orang-orang baru. Mindset berpikir kita akan berubah dan tentunya pengetahuan kita akan bertambah,karena banyaknya teman. Dengan organisasi kita sudah terlatih untuk tampil depan umum.

Bukan hanya itu dengan organisasi kita bisa memperjuangkan hak-hak masyarakat dan keluarga kita. Akibat dari pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, maka kebijakan itu harus kita lawan. Pramoedya pernah berkata “Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan, karena sejatinya mahasiswa memiliki peran ganda sebagai kaum terpelajar dan kaum penyambung lidah masyarakat, agen perubahan, dan pengontrolan sosial.

Untuk kalian yang belum bergabung dengan oragnisasi atau kalian yang sudah bergabung namun belum aktif. Cobalah untuk bergabung dan aktif di organisasi yang kau sukai terlebih dahulu. Jangan takut untuk berorganisasi, jangan jadikan ketakutan menjadi penghambat mu untuk berkembang. Bereskpresilah sesuai yang kamu sukai, bukan hanya numpang tertawa. Tinggalkan kebiasaan malas. Berkaryalah untuk bangsa, tunjukan bahwa kita mampu menjadi yang terbaik. Ingat, mahasiswa itu istimewa dan ada peran serta tanggung jawab yang sangat penting untuk bangsa kita tercinta, khususnya Bangka Belitung. Ayo kita perjuangkan hak-hak rakyat kecil melalui tindakan kita dengan berorganisasi.

Published: Ghiffari