Hentikan Galian yang Merusak Negeri Serumpun Sebalai

by -
Persassiddik.com adalah situs resmi Unit Kegiatan Kampus (UKM) pers di Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung
Persassiddik.com adalah situs resmi Unit Kegiatan Kampus (UKM) pers di Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

“Jika kau terus menggali dan merusak bumi, maka kau akan terkubur mati ditelan oleh bumi” Dupi Nadila

Kerusakan alam sering terjadi, dibuat oleh tangan manusia atau datang karena peciptanya yang menghendaki. Negeri ini akan mati jika tidak dirawat dengan sepenuh hati.

Banyak sekali kasus keruskan alam yang ada di Indonesia, tentu kerusakan yang terjadi dapat mengancam keberlangsungan hidup manuisa, hewan dan tumbuhan. Kerusakan yang dialami kerap kali menjadi hal menakutkan, berbagai kerusakan yang dibuat oleh manusia terhadap alam contohnya pembakaran hutan secara disengaja, pembuang limbah secara asal, dan mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan seperti eksploitasi timah.

Timah adalah hasil bumi yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, timah merupakan logam berwarna putih keperakan, dapat ditempa, memiliki titik leleh yang rendah dan memiliki struktur Kristal yang tinggi. Ia bagaikan primadona yang diburu oleh semua orang, tak peduli dengan alam sekitarnya, bagaikan kembang desa yang cantik nan anggun, membuat orang berbondong-bondong melamarnya. Sama seperti timah, orang berbondong-bondong mencarinya, bahkan ada yang meregang nyawa dibuatnya, ada pula yang adu mulut karenanya. Contohnya Di Bangka Belitung.

Bangka Belitung adalah salah satu provinsi yang ada di indonesia, namaya terkenal dan tersohor dengan sebutan Negeri Serumpun Sebalai, terdiri dari dua pulau yaitu Bangka dan Belitung dimana terdapat toleransi yang sangat kuat antar umat, berbagai suku dan agama ada disana, masjid dan kelenteng saling berhadapan. Tapi sayang, kini negeri serumpun sebalai itu terancam, karena kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh penambangan timah, lalu bagaimana keindahan dan kerukunan itu akan tetap ada jika alam yang ditempati terus dieksploitasi secara brutal, banyak penambang ilegal yang merusak hutan, tak puas dengan daratan, laut pun jadi sasaran untuk eksploitasi timah.

Baca juga:  DEMA IAIN SAS BABEL Tanggapi Hari Buruh di Momentum Fitri, Kembalikan Lagi Harkat dan Martabat Buruh

Sejak dulu Bangka Belitung terkenal dengan pertambangan timahnya, bahkan kekayaan sumber daya alam timah yang ada di Bangka Belitung diakui sebagai penghasil timah terbesar di indonesia. Bukan perihal itu, tapi bagaimana alam menangis karena bagian dari tubuhnya terus dikikis, dikuras dan dikeruk dengan kejamnya tanpa ampun.

Kerusakan terjadi akibat penambangan. Timah bagaikan 2 ujung tombak yang tajam, ia bisa menjadi berkah dan bisa menjadi bencana apabila pemanfaatannya tidak dilakukan secara baik. Berkah dari adanya timah dapat meningkatkan dan menggerakan perekonomian khususnya di Bangka Belitung. Namun dilain sisi, timah juga akan menjadi bencana yang akan mengancam keberlangsungan hidup masyarakatan Bangka Belitung. Dampak buruk yang dirasakan dari eksploitasi timah yaitu rusaknya lingkungan hidup yang disebabkan oleh tambang resmi maupun ilegal, kerusakan dan pencemaran lingkungan terjadi akibat penebangan pohon secara liar, jika tidak segera diantisipasi maka kerusakan hutan akan semakin parah. Pohon yang ada dihutan merupakan penopang kehidupan manusia jika ia ditebangi secara terus menerus akan mengakibatkan gundulnya hutan dan apabila hutan dan air sudah berkurang maka kekeringan akan terjadi dan ketika musim hujan datang sudah dipastikan kawasan tersebut akan dilanda banjir. Selain itu, dampak lain dari adanya eksploitasi timah di darat akan meninggalakan jejak ekologi buruk dan kesengsaran bagi petani sebab lahannya dijadikan lahan tambang. Bangka Belitung terancam dengan adanya ekploitasi timah, bukan hanya di darat timah juga diburu di laut.

Baca juga:  Senja yang tenggelam

Apa penambangan timah di laut tidak mempunyai dampak buruk?

Jelas banyak sekali dampak negatif yang terjadi karena penambangan timah, selain dampak yang ada di darat, kerusakan ekosistem laut juga terjadi akibat penambangan timah, aktivitas penambangan timah di laut yang tidak tersistem akan membuat ekosistem yang ada di perairan Bangka Belitung ini rusak dan tercemar. Terumbu karang rusak, tangkapan ikan bagi para nelayan berkurang, bukan tidak mungkin jika ini terus terjadi, maka para nelayan akan kehilangan sumber mata pencahariannya, terutama para nelayan tradisional, keaslian dan keasrian laut pun harus dikorbankan.

Pentingnya kepedulian akan alam yang sudah semakin tua, gerakan kaum muda sangat diharapkan dapat membantu mengatasi kerusakan yang disebabkan oleh tangan nakal tak bertanggungjawab.

Generasi muda atau sekarang lebih dikenal dengan generasi milennial harus mempunyai peran aktif dalam mengatasi kerusakan yang terjadi, menjaga lingkungan dan mampu mempertahankan keasrian dan keaslian lingkungan. Berbagai cara dapat dilakuakan oleh kaum milenial baik dalam membantu pemerintah untuk menjadi pengawas jika terjadi pelanggaran perusakan lingkungan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Tentunya hal tersebut dapat membantu pemerintah dalam menjalankan tugasnya dalam upaya menjaga lingkungan hidup, karena jika ada tambang ilegal yang tidak memiliki perijinan dan berpotensi merusak lingkungan bisa dikenakan tindak pidana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan mineral dan Batubara.

Baca juga:  Primadona Baru di Masa Pandemi

Milenial biasanya suka dengan hal yang berbau viral dan ikut untuk mencoba dan mengunggahnya di media sosial, biasanya ingin terlihat keren. Nah, hal itu dapat dimanafaatkan oleh para milenial dalam perannya untuk menjaga lingkungan, contohnya dengan memviralakan gerakan “the challenge of planting a thousand trees” atau tantangan menanam seribu pohon, hal ini akan lebih bermanfaat dan lebih mengedukasi dibandingkan dengan viralnya hal-hal yang unfaedah.

Selain itu, hal kecil yang bisa menjadi besar seperti “start from yourself”. Ya, memulai dari dirimu sendiri, ketika kita ingin didengar maka lakukanlah apa yang kita bicarakan pada diri kita. Contohnya memasang slogan “Throw garbage its place” di tempat umum untuk mengingatkan banyak orang, namun kita masih membuang sampah sembarangan dan percayalah slogan itu hanya akan menjadi kata-kata tanpa makna yang tidak akan dihiraukan. Memulai dan membiasakan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan merupakan hal kecil namun akan berdampak besar.

Kaum milenial dapat menyelamatkan lingkungan denga cara tersebut. Bangka Belitung, harus diselamatkan dari tangan-tangan jahat dan otak picik yang hanya memikirkan keuntungan untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan alam dan tempat yang sedang ditinggali oleh masyarakat yang memiliki keindahan dan keragaman.

Ayo milenial’s, start to love our environment, karena alam telah memperlihatkan cintanya pada kita.[]