Selayang Pandang Desa Tanjung Sangkar

by -

Hujan pertengahan September ini meninggalkan kesejukan kenangan yang tak terlupakan di Desa Tanjung Sangkar. Salah satu desa yang berada disebelah selatan pulau Bangka, persisnya diseberang pulau di Kecamatan Lepar Pongok. Dari kota Pangkalpinang kurang lebih 3-4 jam perjalanan untuk menuju pelabuhan Sadai dan kemudian kita akan berlayar untuk sampai ke pelabuhan Desa Penutuk lanjut lagi kurang lebih 25 menit untuk sampai ke Desa Tanjung Sangkar. Jalanan aspal yang licin, pohon sawit yang berjejer rapi, kebun warga yang asri di sepanjang jalan menggambarkan layaknya kampung yang wajib kita kunjungi untuk menyegarkan pikiran dari hiruk pikuk keramaian kota.

Mendengar pertama kali Desa Tanjung Sangkar kita akan bertanya-tanya dimana ia berada. Dan ketika kita mengetahuinya bahwa Tanjung Sangkar berada di kecamatan Lepar Pongok kita pikiran kita akan kemana-mana dan timbul persepsi bahwa Tanjung Sangkar sebuah desa pedalaman, tertinggal, menyeramkan atau bahkan mengerikan. Namun, siapa sangka bahwa Desa Tanjung Sangkar adalah sebuah desa yang bisa dikatakan sudah berkembang. Desa yang memiliki luas 51, 61 KM2 ini memiliki penduduk yang padat, desa nya aman, makmur, dan bersih.

Baca juga:  Aksi Bersih Bukit Merbaung Oleh Komunitas Pencinta Alam-Sosial Syaikh Abdurrahman Siddik (Kopassas) Bangka Belitung

Disetiap halaman rumah-rumah warga jarang sekali kita temui halamannya kotor karena sampah. Meskipun rumah masyarakat banyak dipinggir pantai, mereka tetap menjaga kebersihan laut. Hal ini bisa kita lihat dengan air lautnya yang jernih dan jarang sekali kita melihat sampah dipinggiran pantai kecuali tumpukan cangkang kerang. Desa Tanjung Sangkar pernah meraih prestasi Juara 2 lomba kebersihan desa se-Kabupaten Bangka Selatan. Disetiap rumah warga pun tersedia tempat sampah yang terbuat dari potongan drum. Keasrian rumah warga juga dihiasi dengan pepohonan seperti mangga dan jambu yang memberikan kesejukan.

Jika kita berpikiran bahwa Tanjung Sangkar desa yang tertinggal, menyeramkan atau pikiran negatif lainnya, itu salah besar.Penduduk disini hampir semuanya ramah kepada siapapun, kenal ataupun tidak, kekeluargaan antar warga nya masih terasa, kebersamaannya erat, suka gotong royong. Itulah Desa Tanjung Sangkar, meski zaman terus berubah mereka tetap menjunjung kerukunan antar warga nya. Di desa ini setiap harinya kita akan di suguhi dengan pemandangan masa kecil yang menyenangkan tatkala melihat anak-anak disini jauh dari gadget dan melihat anak-anak bermain. Jika dulu kita sering bermain sepeda kayuh, disini rata-rata setiap anak menggunakan sepeda listrik, hampir tidak kita temui yang menggunakan sepeda kayuh, tentu ini menunjukkan bahwa desa ini sudah berkembang, bahkan di desa-desa di Pulau Bangka yang masih jarang ditemui menggunakan sepeda listrik.

Baca juga:  Pers Mahasiswa: Bukan Sekedar Jurnalis Kampus

Sedikit mengenal lebih dalam mengena Tanjung Sangkar. Rata-rata pekerjaan masyarakat adalah nelayan, ada juga yang berkebun dan tambang timah. Di tahun ini sampai lebaran nanti kebanyak nelayan berfokus pada penangkapan cumi. Adapun makanan yang sering di produksi dirumah-rumah berupa kempelang ikan, kempelang cumi, kempelang telur kepiting, pempek dan olahan laut lainnya. Setiap pagi kita akan melihat ibu-ibu keliling jualan ikan dan kepiting. Sementara bapak-bapaknya bersiap menuju dermaga untuk melaut ada juga yang baru pulang setelah semalaman melaut.

Ketika sore hari kita akan disuguhi dengan sunset yang begitu indah untuk dilihat diujung dermaga. Perahu nelayan yang berjejer rapi menambah keestetikan sore hari di Desa Tanjung Sangkar. Angin sore yang menyejukan dengan burng-burung berterbangan di langit Tanjung Sangkar juga menambah keindahan sore di Tanjung Sangkar. Inilah sedikit tentang Desa Tanjung Sangkar.

Baca juga:  Anak Tengah: Anak yang paling sering mengalah?

 

Penulis: Hilhamsyah

Tentang Penulis: Redaksi Persassiddik.com

Avatar
Persassiddik.com adalah situs resmi Unit Kegiatan Kampus (UKM) pers di Institut Agama Islam Negeri Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.